Dulu Sarang Judi dan Sabung Ayam, Kini Jadi Masjid Tertua di Samarinda

Masjid Shirathal Mustaqiem

GSNews.id – Di tepian Sungai Mahakam, berdiri sebuah masjid tua yang bukan sekadar bangunan ibadah. Ia menjadi saksi perubahan zaman, dari sebuah kawasan yang pernah lekat dengan praktik maksiat hingga menjelma pusat syiar Islam di Samarinda Seberang.

Masjid Shirathal Mustaqiem, rumah ibadah tertua di Kota Samarinda yang menyimpan jejak sejaray panjang dan nilai moral lintas generasi.

Dari Kampung Maksiat ke Kampung Mesjid

Kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid, Samarinda Seberang, pada akhir abad ke-19 bukanlah tempat orang bersujud. Riwayat lisan masyarakat menyebut, daerah itu dulu identik dengan sabung ayam, perjudian, dan berbagai aktivitas yang jauh dari ajaran agama.

“Dulu kawasan ini dikenal sebagai kampung maksiat. Sabung ayam dan perjudian jadi pemandangan sehari-hari,” ungkap Mazbar, Ketua Kelompok Sadar Wisata Masjid Shirathal Mustaqiem, dikutip dari ANTARA.

Namun sejarah berubah ketika seorang ulama pendatang memilih menetap dan berdakwah di wilayah tersebut.

Sosok Pangeran Bendahara

Perubahan itu tak lepas dari peran Said Abdurachmanbin Assegaf, ulama keturunan Arab dari Pontianak yang juga dikenal sebagai Pangeran Bendahara. Ia datang awalnya untuk berdagang, menyusuri jalur pelayaran Kalimantan hingga berlabuh di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Interaksi dengan masyarakat setempat membuka mata batinnya. Ia melihat potensi besar Samarinda Seberang sebagai pusat penyebaran Islam, mengingat posisinya yang strategis di jalur perdagangan sungai.

Niat berniaga perlahan berubah menjadi panggilan dakwah. Dengan pendekatan persuasif, keteladanan akhlak, dan kajian agama yang menyejukkan, ia mulai merangkul masyarakat.

Pengaruhnya kian kuat hingga kabarnya sampai ke telinga Sultan Kutai saat itu, Aji Muhammad Sulaiman. Pada 1880, Said Abdurachman diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang serta diberi gelar Pangeran Bendahara.

Lahirnya Masjid Shirathal Mustaqiem

Sebagai Kepala Adat dan Agama, ia menyadari kebutuhan mendesak akan pusat ibadah yang layak. Gagasan membangun masjid pun diwujudkan pada 1881.

Menariknya, masjid ini didirikan tepat di lokasi yang konon dulunya menjadi arena perjudian. Sebuah simbol transformasi moral yang berawal dari tanah maksiat menjadi tempat sujud.

Sepeninggal Pangeran Bendahara, pembangunan dan pengelolaan masjid dilanjutkan tokoh setempat, Kapitan Jaya. Kehidupan religius di Samarinda Seberang pun berkembang pesat.

Kini, lebih dari satu abad berlalu, Masjid Shirathal Mustaqiem tetap berdiri kokoh di Kelurahan Mesjid. Menara segi delapan setinggi 21 meter masih tegap menghadap Sungai Mahakam, menjadi penanda sejarah sekaligus identitas kawasan.

Masjid ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dan menjadi salah satu destinasi religi di Samarinda. Ia bukan hanya saksi bisu perjalanan dakwah, tetapi juga monumen perubahan.

Menjadi bukti bahwa kesabaran dan ilmu mampu mengubah wajah sebuah kampung.