GSNews.id – Langit sore yang bening setelah hujan memantulkan cahaya keemasan di perbukitan Ibu Kota Nusantara, Sabtu (8/11/2025). Suasana hangat itu menyambut ratusan peserta berseragam batik yang memasuki hall Gedung Kementerian Koordinator 3.
Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Bali, untuk menghadiri Silaturahmi Regional Majelis Nasional KAHMI sekaligus memperingati 59 tahun Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).
Mengusung tema “Konsolidasi KAHMI untuk Indonesia Maju,” acara ini bukan sekadar reuni lintas angkatan. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan organisasi yang telah berkiprah hampir enam dekade. Tahun ini, Ibu Kota Nusantara dipilih sebagai panggung utama simbol pergeseran pusat pembangunan dari Jawa menuju Kalimantan.
“Kenapa HUT KAHMI ke-59 digelar di bulan November, bukan September seperti biasanya? Karena Koordinator Presidium kami berasal dari Kalimantan. Saya minta perayaan kali ini dilakukan di IKN,” ujar Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, Presidium Majelis Nasional KAHMI 2022–2027, saat membuka acara.
Pernyataan itu disambut tepuk tangan meriah. Rifqi, sapaan akrabnya, berbicara santai namun penuh makna. Ia menegaskan, KAHMI bukan hanya bagian dari sejarah intelektual kampus, tetapi juga ikut berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional, khususnya di Kalimantan yang kini menjadi episentrum perhatian.
Sebagai Ketua Komisi II DPR RI, Rifqi memiliki hubungan langsung dengan Otorita IKN. Ia turut mengawal kebijakan strategis terkait pembangunan ibu kota baru.
“Saya kebetulan memimpin komisi yang bermitra dengan Otorita IKN. Ini jembatan antara masa lalu dan masa depan,” katanya.
Di sela sambutannya, Rifqi juga mengenang masa kecilnya di Barabai, Kalimantan Selatan.
“Saya darah Banjar. Dulu dari kampung ke Samarinda butuh belasan jam lewat jalan rusak. Kuliah ke Jawa pun naik kapal karena tak mampu beli tiket pesawat,” ujarnya, disambut tawa ringan para peserta.
Ia kemudian mengingat masa ketika banyak orang di Jawa masih meragukan kondisi Kalimantan.
“Dulu mereka tanya, apakah di Kalimantan sudah ada jalan dan mobil? Sekarang, Kalimantan menjadi rumah bagi Ibu Kota Negara. Tak ada lagi yang bisa meragukan arah pembangunan Indonesia Sentris,” tuturnya.
Rifqi juga mengutip pandangan Andrinof Chaniago, mantan Kepala Bappenas, soal urgensi pemindahan ibu kota.
“Dulu saya pikir itu wacana khayalan. Tapi setelah ikut menyusun Undang-Undang IKN, saya tahu itu hasil kajian serius,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keterlibatan KAHMI di IKN bukan sekadar simbolik. Dua kepala daerah yang wilayahnya mengapit kawasan inti IKN, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri dan Bupati Penajam Paser Utara Mudiyat Noor, juga merupakan alumni HMI.
“Ini seperti anugerah Tuhan. Dua bupati pengapit IKN alumni HMI, bahkan di DPR pun ketua dan dua wakil ketua Komisi II yang membidangi IKN juga dari HMI,” ujarnya.
Rifqi menegaskan, jaringan KAHMI kini tidak hanya berperan di ruang gagasan, tetapi juga di pusat pengambilan keputusan nasional.
“KAHMI akan memastikan IKN menjadi ibu kota yang hebat bagi Indonesia masa depan,” tandasnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan KAHMI di IKN diisi dengan jalan sehat, penanaman pohon, dialog kebangsaan bersama Otorita IKN, hingga malam puncak HUT ke-59 yang dihadiri oleh Menteri Pertahanan Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin.
Selain itu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono turut memaparkan perkembangan terkini pembangunan IKN.
Acara ditutup dengan Deklarasi Nusantara, hasil konsolidasi seluruh perwakilan KAHMI di Indonesia. Dokumen tersebut, menurut Rifqi, akan diserahkan kepada Presiden melalui Menteri Sekretaris Negara.
“Semoga didengar,” tutupnya.



