Dispar Kaltim Dorong Pengembangan Gastronomi untuk Perkuat Daya Saing Desa Wisata

GSNews.id – Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan bahwa pengembangan gastronomi menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya tarik desa wisata. Pendekatan ini tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi memberikan pengalaman kuliner yang memiliki cerita, identitas, dan nilai budaya lokal.


Gastronomi Jadi Tren Wisata Baru

Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, menjelaskan bahwa tantangan terbesar pelaku wisata saat ini bukan pada keunikan lokasi, melainkan pada bagaimana mereka mampu mengemas produk kuliner secara menarik dan berkarakter.

Menurutnya, wisatawan kini ingin mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam, termasuk mengetahui sejarah, proses, dan makna dari makanan lokal.

“Trend ke depan itu gastronominya. Orang pengin tahu apa sih sejarahnya makanan di sini, ” ucapnya, Minggu (7/12/2025).


Gami Bawis Jadi Contoh Kekuatan Kuliner Lokal

Ririn mencontohkan kuliner Gami Bawis dari Bontang sebagai keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Ikan bawis—ikan endemik perairan Bontang—menjadi modal khas yang dapat menciptakan identitas kuliner berbeda.

“Kekayaan lokal seperti ini harus dikembangkan menjadi magnet wisata. Setiap daerah punya potensi, tinggal bagaimana kita mengolahnya,” jelasnya.


Dorong Desa Wisata Kembangkan Produk Bernilai Tambah

Contoh lain yang disorot Dispar Kaltim adalah Desa Sumber Sari, Loa Kulu, Kutai Kartanegara. Desa ini memiliki potensi pertanian besar namun selama ini hanya menjual produk segar seperti kangkung dan selada.

Dispar mendorong agar produk tersebut diolah menjadi kuliner bernilai tambah, misalnya keripik sayur dengan standar gizi dan kemasan yang menarik.

“Kita bekerja sama dengan teman-teman pengolahan pertanian Unmul untuk membantu dari sisi packaging dan nilai gizinya,” kata Ririn.


Inovasi Menu Jadi Kunci Daya Saing

Ia menegaskan bahwa banyak pelaku wisata masih terpaku pada menu yang umum ditemui di pasaran, padahal variasi olahan lokal sangat luas. Misalnya, ikan patin yang biasanya hanya dibakar atau dipindang, sebenarnya bisa dikembangkan menjadi produk seperti Rabuk Patin yang memiliki cita rasa kuat dan daya simpan lebih baik.

“Gastronomi itu bukan sekadar soal rasa, tetapi bagaimana kuliner lokal membangun pengalaman utuh bagi wisatawan,” tegasnya.


Kuliner sebagai Pintu Masuk Pariwisata Desa

Ririn menambahkan, apabila desa wisata mampu mengolah kekayaan pangan mereka secara kreatif dan terstandarisasi, maka kuliner bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk mengenalkan karakter daerah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.