Anggaran Terbatas, Dispar Kukar Fokuskan Program pada Ekonomi Kreatif dan PAD

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara Awang Agus Darmawan saat diwawancara.

GSNews.id – Di tengah kondisi keuangan daerah yang belum sepenuhnya stabil, Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memilih memprioritaskan program yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memiliki potensi mendorong Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sejumlah program pariwisata tetap dijalankan dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Fokusnya diarahkan pada kegiatan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif dan menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Darmawan, mengatakan seluruh program yang dirancang merupakan bagian dari agenda pembangunan sesuai arahan Bupati dan Wakil Bupati Kukar. Namun, pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi fiskal daerah.

“Dari 2025 memang untuk di 2026, artinya semua program itu ya unggulan sesuai apa yang diamanatkan Bupati dan Wakil Bupati. Tapi pada perjalanannya dan kenyataannya, kondisi keuangan daerah ini kan belum stabil, belum baik-baik saja,” ujar Awang, Jumat (14/8/2026).

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menentukan skala prioritas. Program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat menjadi salah satu perhatian, termasuk aktivitas di kawasan Simpang Odah Etam (SOE).

Kawasan tersebut tidak hanya menjadi ruang berkumpul dan hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi tempat bagi pelaku UMKM dan komunitas ekonomi kreatif untuk mengembangkan aktivitasnya.

“Sementara ini yang jalan kan Simpang Odah Etam (SOE). SOE ini kan langsung bersentuhan dengan masyarakat. Terus di situ juga ada kegiatan UMKM,” katanya.

Pengembangan SOE dilakukan melalui kolaborasi lintas perangkat daerah. Dispar berkontribusi pada penyediaan hiburan dan aktivitas ekonomi kreatif, sementara pengembangan UMKM melibatkan Dinas Koperasi dan UKM.

“SOE itu kolaborasi dari Dinas Pariwisata, ada Dinas Koperasi dan UKM di situ,” jelas Awang.

Untuk memperkuat daya tarik kawasan, Dispar menghadirkan berbagai komunitas ekonomi kreatif dalam kegiatan akhir pekan. Pertunjukan musik, tari dan berbagai kreativitas lainnya menjadi bagian dari aktivitas yang disajikan kepada masyarakat.

“Kalau hiburan-hiburan yang tampil malam minggu itu, dari komunitas-komunitas ekraf yang kita tampilkan di situ. Ada musik, ada tari, macam-macam jenis,” ungkapnya.

Selain SOE, Pulau Kumala menjadi destinasi lain yang mendapat perhatian Dispar Kukar. Pemerintah daerah tengah mendorong penyelesaian proses kontrak untuk mendukung pengoperasian kawasan wisata tersebut.

Saat ini proses tersebut masih berjalan melalui tahapan tender di Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ).

“Karena Pulau Kumala itu pengelolaannya ada di Dinas Pariwisata, memang ada kegiatan penyelesaian kontrak. Dan ini masih berproses, masih proses tender di UKPBJ,” ujarnya.

Pengoperasian kembali Pulau Kumala diharapkan tidak hanya menghidupkan aktivitas wisata di Tenggarong, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas sekaligus membuka peluang peningkatan PAD.

“Mudah-mudahan kalau memang itu bisa terlaksana, harapannya bisa beroperasi dan ujung-ujungnya bisa menaikkan pendapatan asli daerah,” tandasnya.

Melalui penentuan prioritas dan kolaborasi lintas sektor, Dispar Kukar berupaya memastikan pariwisata tetap bergerak meski berada dalam situasi keterbatasan fiskal. (adv/disparkukar)