GSNews.id — Pengalaman melihat pengelolaan destinasi wisata di Yogyakarta menjadi inspirasi bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mentari Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), untuk mengembangkan konsep wisata malam di Bukit Mahoni.
Gagasan tersebut muncul setelah pengelola mengikuti kegiatan orientasi lapangan yang difasilitasi Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar. Kegiatan itu dimanfaatkan Pokdarwis untuk mempelajari secara langsung berbagai pendekatan pengembangan destinasi yang telah diterapkan di daerah lain.
Ketua Pokdarwis Mentari, Lucky Anisa, mengatakan kegiatan orientasi memberikan kesempatan bagi pengelola untuk melihat pengelolaan destinasi dari perspektif yang berbeda.
“Orientasi lapangan itu memberi kami kesempatan untuk melihat bagaimana tempat wisata di daerah lain dikelola. Jadi kami tidak hanya datang untuk berkunjung, tetapi juga melihat apa yang bisa menjadi pembelajaran,” ujar Lucky saat dihubungi, Selasa (6/10/2026).
Selama berada di Yogyakarta, Pokdarwis Mentari mengunjungi sejumlah destinasi. Salah satu yang menarik perhatian mereka yakni Hutan Pinus Pengger, yang tetap memiliki aktivitas wisata setelah matahari terbenam.
Menurut Lucky, penggunaan pencahayaan menjadi salah satu unsur yang membuat kawasan tersebut memiliki karakter berbeda ketika malam hari.
“Kawasan hutannya tetap memiliki aktivitas wisata ketika malam, sehingga suasananya berbeda dibandingkan saat siang,” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian memunculkan gagasan untuk mengembangkan Bukit Mahoni agar tidak hanya menjadi destinasi yang aktif pada siang hari.
Lucky mengatakan konsep pencahayaan menjadi salah satu hal yang dipelajari dari kunjungan tersebut. Namun, penerapannya di Bukit Mahoni nantinya akan disesuaikan dengan karakter lingkungan dan kebutuhan kawasan.
“Memang kami tidak mungkin meniru persis apa yang ada di Jogja. Kami melihat konsepnya saja, kemudian kami pikirkan bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi Bukit Mahoni,” tuturnya.
Sepulang dari orientasi, Pokdarwis Mentari mulai membahas kemungkinan pengembangan wisata malam bersama anggota. Sejumlah kebutuhan kemudian diidentifikasi, terutama terkait kesiapan sarana pendukung.
“Salah satunya penerangan, karena kalau mau ada kegiatan malam tentu aspek pencahayaan harus dipikirkan sejak awal,” ungkap Lucky.
Kebutuhan tersebut selanjutnya dituangkan dalam proposal yang diajukan kepada Dispar Kukar. Proposal tersebut menjadi bagian dari upaya Pokdarwis mendapatkan dukungan terhadap sarana yang diperlukan untuk mengembangkan aktivitas wisata malam.
Menurut Lucky, pengalaman orientasi lapangan memberikan pelajaran bahwa pengembangan destinasi tidak selalu harus dimulai dari konsep yang sepenuhnya baru. Inspirasi dari daerah lain dapat menjadi referensi selama disesuaikan dengan potensi dan karakter lokal.
“Intinya kami mengambil inspirasinya, bukan menyalin tempatnya. Kami ingin Bukit Mahoni tetap punya ciri sendiri, tetapi bisa memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung ketika datang pada malam hari,” tegasnya. (adv/disparkukar)




