GSNews.id – Aktivitas pelayaran sungai dari Samarinda menuju Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) berangsur pulih setelah sempat terhenti akibat persoalan administrasi dan akses BBM solar subsidi.
Pemerintah memastikan distribusi solar subsidi kini kembali berjalan, sehingga layanan angkutan penumpang dan barang mulai normal.
22 Kapal Kembali Beroperasi
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas menyampaikan, dari total 23 kapal yang sempat terdampak, sebanyak 22 kapal telah dipastikan bisa kembali beroperasi dengan fasilitas BBM subsidi.
“Dari 23 kapal, 22 sudah bisa kembali melayani seperti biasa. Ini penting agar pergerakan ekonomi dari Samarinda sampai Mahakam Ulu tidak terganggu,” ujar Wahyudi saat peninjauan, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya 13 kapal lebih dulu memperoleh izin operasional sementara. Sembilan kapal lainnya menyusul setelah dokumen lengkap diterima Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan diteruskan ke BPH Migas.
“Sembilan kapal yang dokumennya sudah lengkap kami terima Selasa sore, dan Rabu langsung kami keluarkan persetujuannya. Satu hari setelah dokumen lengkap, langsung kami selesaikan,” jelasnya.
Adapun satu kapal masih dalam proses penyelesaian administrasi.
Sempat Terkendala Dokumen
Penghentian operasional terjadi sejak 24 Januari 2026. Sejumlah kapal tidak dapat memperoleh solar subsidi karena izin operasi dan sertifikat keselamatan sudah kedaluwarsa.
“Solar subsidi hanya diberikan kepada kapal yang izin operasinya dan sertifikat keselamatannya masih berlaku. Ini untuk keselamatan pelayaran dan agar subsidi tepat sasaran,” tegasnya.
Ia juga meminta percepatan administrasi di tingkat daerah.
“Kami perlu menyaksikan langsung di lapangan dan menghadirkan Dishub agar proses upload data dan dokumen bisa dipercepat. Jangan sampai layanan masyarakat terganggu terlalu lama,” tambah Wahyudi.
Penyaluran BBM Mulai Normal
BPH Migas bersama PT Pertamina Patra Niaga turut meninjau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Samarinda.
Di lokasi tersebut, KM Barokah 08 melakukan pengisian 2.200 liter solar subsidi untuk trayek Samarinda–Melak.
“Kita sudah lihat langsung pengisiannya. Untuk satu kali pulang-pergi, kapal ini membutuhkan sekitar 2.200 liter,” kata Wahyudi.
Dampak ke Distribusi dan Harga
Jalur sungai Samarinda–Kubar–Mahulu selama ini menjadi tumpuan utama distribusi logistik dan mobilitas warga di wilayah hulu Mahakam. Ketika kapal berhenti beroperasi, pasokan barang ikut tersendat.
Dengan operasional kapal yang kembali berjalan, pemerintah berharap distribusi barang dan pelayanan penumpang di wilayah hulu Mahakam bisa kembali stabil, sekaligus menjaga harga kebutuhan pokok tetap terkendali.



