Dari Tepi Danau Jempang, Desa Tanjung Isuy Masuk Jajaran Desa Budaya 2025

Danau Jempang, Kabupaten Kutai Barat. (Sumber: fb/jelajahikutaibarat)

GSNews.id – Dari Huta Sinapuran, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengumumkan penerima Apresiasi Desa Budaya 2025, salah satunya Desa Tanjung Isuy dari Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Penetapan tersebut merupakan bagian dari puncak rangkaian Program Pemajuan Kebudayaan Desa yang digelar Kementerian Kebudayaan.

Contoh Desa Penjaga Kebudayaan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut desa-desa penerima apresiasi menunjukkan peran penting desa dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan.

“Desa-desa itu menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat hidup, tumbuh, dan menjadi kekuatan pembangunan dari desa,” ujar Fadli Zon.

Lima Desa Penerima Apresiasi

Selain Tanjung Isuy, empat desa lain yang menerima Apresiasi Desa Budaya 2025 yakni Desa Cibaliung (Banten), Desa Duarato (Nusa Tenggara Timur), Desa Suak Timah (Aceh), dan Desa Tebat Patah (Jambi).

Kelima desa tersebut dinilai berhasil membangun ekosistem kebudayaan desa yang hidup, berkelanjutan, dan berakar kuat pada identitas lokal, serta mampu memberi dampak sosial, ekologis, dan ekonomi bagi masyarakat.

Kampung Dayak Benuaq di Danau Jempang

Desa Tanjung Isuy terletak di sisi barat daya Danau Jempang, danau terluas di Kalimantan Timur. Desa ini mayoritas dihuni oleh Suku Dayak Benuaq yang hingga kini masih menjadikan adat dan tradisi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam praktik sosial-budaya, masyarakat setempat mempertahankan tradisi penyambutan tamu melalui tarian adat yang kerap ditampilkan dalam kegiatan budaya maupun saat menerima kunjungan.

Rumah Adat dan Ekonomi Budaya

Di Tanjung Isuy terdapat tiga rumah adat Dayak Benuaq atau Lou yang masih aktif difungsikan. Lou Taman Jamrud dimanfaatkan sebagai penginapan dan ruang pertunjukan seni, Lou Temenggung Marta menjadi pusat berbagai kegiatan adat dan sosial, sementara Lou Batu Buraq menjadi sentra kerajinan Tenun Doyo, wastra khas Dayak Benuaq.

Selain menenun, masyarakat juga mengembangkan kerajinan ukir kayu berupa patung dan ornamen tradisional yang dijadikan cinderamata, sekaligus menopang ekonomi berbasis budaya desa.

Program Berkelanjutan

Program Pemajuan Kebudayaan Desa telah dilaksanakan Kementerian Kebudayaan secara berkelanjutan sejak 2021. Pada tahun 2025, program ini melibatkan 150 desa, setelah sebelumnya menjangkau lebih dari 550 desa dari berbagai wilayah Indonesia.

Penilaian dilakukan melalui tahapan Temu Kenali, Pengembangan, dan Pemanfaatan, dengan melibatkan dewan juri lintas disiplin serta menitikberatkan pada keberlanjutan dampak kebudayaan desa.