Erau 2026 Putar Uang Puluhan Miliar, UMKM Kukar Rasakan Dampak Ekonomi

GSNews.id – Pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar memperkirakan perputaran uang selama rangkaian kegiatan Erau mencapai sekitar Rp13 miliar. Nilai tersebut berasal dari transaksi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta aktivitas ekonomi di sejumlah kawasan kegiatan.

Plt. Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan transaksi di kawasan Expo Erau tercatat mencapai Rp7,161 miliar dari 284 UMKM yang berpartisipasi.

“Di Expo sendiri nilai transaksinya sekitar Rp7,161 miliar dari 284 UMKM yang terlibat. Kalau ditotal dengan aktivitas UMKM di depan Kedaton dan lokasi lainnya, perputaran uang diperkirakan sekitar Rp13 miliar,” ujar Agus saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, keterlibatan UMKM dalam kegiatan budaya berskala besar memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Aktivitas perdagangan juga berlangsung di luar kawasan expo, termasuk di sekitar Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara.

Dampak penyelenggaraan Erau turut terlihat pada sektor akomodasi. Dispar Kukar mencatat sekitar 16 hotel dan penginapan menjadi bagian dari fasilitas yang digunakan pengunjung selama kegiatan berlangsung.

Bahkan, menjelang malam penutupan Erau, seluruh kamar penginapan yang tersedia dilaporkan terisi.

“Pada saat penutupan, Sabtu malam Minggu, penginapan sudah penuh. Semua kamar terjual,” kata Agus.

Selain dampak ekonomi, pelaksanaan Erau tahun ini juga mencatat jumlah kunjungan yang cukup tinggi. Berdasarkan laporan sementara dari event organizer (EO), jumlah kunjungan selama rangkaian kegiatan mencapai 172.134.

“Kalau dari target Kementerian Pariwisata 40 ribu orang, sepertinya kita sudah melampaui. Dari laporan sementara, jumlah pengunjung mencapai 172.134 orang,” ungkapnya.

Meski demikian, angka tersebut masih akan dibandingkan dengan data dari penyedia layanan telekomunikasi, seperti Telkomsel dan XL.

Data itu diperlukan untuk memperoleh gambaran lebih akurat mengenai mobilitas pengunjung, termasuk membedakan wisatawan yang menginap dengan pengunjung yang datang dan pulang pada hari yang sama.

Agus menjelaskan, pihaknya masih menunggu persetujuan dari kantor pusat masing-masing operator sebelum data pergerakan masyarakat dapat diperoleh.

“Kami masih menunggu data dari provider. Mereka tidak bisa serta-merta mengeluarkan data tanpa persetujuan dari pusat di Jakarta,” jelasnya.

Agus menilai, capaian sementara tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan event budaya dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, mulai dari peningkatan aktivitas perdagangan hingga penggunaan jasa penginapan.

“Alhamdulillah, sangat berdampak. Walaupun kita dalam kondisi keuangan seperti ini, paling tidak masih ada masyarakat yang berbelanja dan perputaran uangnya juga terjadi di tempat kita sendiri,” sebutnya. (adv/disparkukar)