GSNews.id – Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghidupkan kegiatan di destinasi wisata di tengah keterbatasan anggaran.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar Awang Agus Dharmawan mengatakan, keterbatasan anggaran tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan berbagai kegiatan yang dapat mendukung perkembangan pariwisata.
“Di tengah keterbatasan anggaran saat ini, kami melihat kondisi ini sebagai tantangan. Kita tidak boleh hanya berpikir karena tidak ada anggaran maka tidak bisa berbuat apa-apa. Justru kita harus mencari cara melalui kolaborasi,” ujar Awang, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kolaborasi dengan media mau pun komunitas dapat menjadi salah satu cara untuk tetap menggelar kegiatan di destinasi wisata.
Selain membantu promosi, kegiatan tersebut juga dapat mempertemukan berbagai komunitas dan masyarakat.
“Kami senang ketika ada kolaborasi dengan media dalam membuat kegiatan di destinasi wisata. Kegiatan seperti itu tidak hanya membantu promosi pariwisata, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarkomunitas,” katanya.
Awang menilai kegiatan di destinasi wisata tidak harus selalu berorientasi pada promosi. Aktivitas yang melibatkan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali literasi, seni, permainan tradisional, hingga kegiatan anak-anak.
“Kegiatan tersebut juga bisa menghidupkan literasi, seni, permainan tradisional dan aktivitas anak-anak. Ada komunitas gasing, anak-anak bermain egrang dan permainan tradisional lainnya,” jelasnya.
Ia menyebut antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Menurutnya, aktivitas permainan tradisional juga dapat menjadi alternatif bagi anak-anak untuk mengurangi ketergantungan terhadap telepon genggam.
“Antusias masyarakat juga luar biasa. Paling tidak, kegiatan seperti ini bisa menjadi ruang untuk mengalihkan anak-anak sejenak dari telepon genggam sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional,” ungkap Awang.
Menurutnya, kebiasaan anak-anak bermain bersama secara langsung kini mulai berkurang dibandingkan masa sebelumnya. Interaksi tersebut dinilai memiliki nilai sosial yang penting karena anak-anak dapat belajar berkomunikasi dan membangun hubungan dengan teman sebaya.
“Dulu kita masih sering memanggil teman untuk bermain bersama. Walaupun kadang setelah bermain ada yang bertengkar, besoknya tetap bertemu dan bermain lagi,” ujarnya.
Awang mengatakan perubahan kebiasaan tersebut menjadi salah satu alasan pihaknya mendukung kegiatan berbasis komunitas di tengah masyarakat.
“Sekarang kebiasaan seperti itu mulai hilang. Karena itu, kami senang bisa ikut memberdayakan kegiatan-kegiatan kecil seperti ini di tengah masyarakat,” pungkasnya. (Adv Dispar Kukar)



