GSNews.id – Program peningkatan kompetensi pelaku pariwisata di Kutai Kartanegara (Kukar) tetap diupayakan berjalan di tengah penyesuaian anggaran daerah.
Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar menerapkan sejumlah pertimbangan dalam menentukan peserta sertifikasi. Salah satunya melihat aktivitas dan kesesuaian pekerjaan peserta dengan kompetensi yang akan disertifikasi.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Usaha Pariwisata Dispar Kukar, Sadli, mengatakan program sertifikasi sebelumnya telah dilaksanakan. Tahun ini, pihaknya masih berupaya mempertahankan program tersebut dengan menyesuaikan kemampuan anggaran dinas.
“Iya dari kami tentu mengusahakan adanya program sertifikasi pariwisata tetap berjalan, namun kembali lagi kita harus menyesuaikan anggaran dinas,” kata Sadli, Sabtu (19/9/2026).
Sementara itu, Pejabat Fungsional Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Kukar, Airin Susanti, menjelaskan bahwa peserta tidak dipilih secara umum.
Menurutnya, penentuan peserta disesuaikan dengan bidang pekerjaan yang mereka jalankan. Hal ini penting karena biaya yang dibutuhkan dalam satu program sertifikasi cukup besar.
“Untuk sertifikasi seperti itu, peserta juga ditunjuk dari dinas. Kami tidak sembarangan memilih peserta karena biaya sertifikasi cukup besar. Orang yang kami ikutkan memang harus benar-benar menjalankan tugas sesuai bidang yang disertifikasi,” ujar Airin.
Ia mencontohkan sertifikasi bagi pemandu wisata. Peserta yang diprioritaskan merupakan pelaku yang memang menjalankan pekerjaan sebagai pemandu sehingga kompetensi yang diperoleh dapat langsung digunakan dalam aktivitasnya.
Untuk satu peserta, Dispar Kukar menyiapkan anggaran sekitar Rp4 juta lebih. Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sertifikasi, transportasi, akomodasi hingga keperluan pendukung lainnya.
Dalam pelaksanaannya, Dispar Kukar menggandeng Jana Dharma Indonesia (JDI) Yogyakarta. Proses sertifikasi profesi juga melibatkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sesuai bidang kompetensi yang diujikan.
Airin menyebut keterbatasan anggaran membuat jumlah peserta harus disesuaikan. Namun, pihaknya tetap berusaha memastikan peserta yang dipilih memiliki kebutuhan dan aktivitas yang jelas di lapangan.
“Karena anggaran yang tersedia juga terbatas dan terus mengalami penyesuaian, jumlah peserta yang bisa kami ikutkan menjadi terbatas. Tetapi kami tetap memastikan bahwa peserta yang mengikuti sertifikasi memang orang yang membutuhkan dan benar-benar menjalankan tugasnya di lapangan,” jelasnya.
Selain sertifikasi profesi, Dispar Kukar juga menjalankan pembinaan bagi pelaku pariwisata melalui berbagai pelatihan. Materinya disesuaikan dengan kebutuhan pengelola maupun kondisi destinasi.
Beberapa kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya antara lain pelatihan pengelolaan homestay, keamanan dan keselamatan daya tarik wisata, kebersihan serta materi lain yang berkaitan dengan pengelolaan destinasi.
Pelaksanaan pembinaan juga tidak terpaku pada satu lokasi. Jika fasilitas di desa dinilai memadai, kegiatan dapat dilaksanakan di wilayah tersebut. Sebaliknya, apabila sarana belum mencukupi, kegiatan dapat dilakukan di hotel dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran.
Airin menegaskan pemilihan tempat kegiatan tetap mengikuti kebutuhan dan pagu yang tersedia. Komponen seperti transportasi, konsumsi dan akomodasi turut menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi.
Selain mendapatkan materi, peserta juga diarahkan untuk memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan lapangan. Kunjungan ke destinasi di daerah lain menjadi salah satu cara untuk memperluas wawasan mengenai pengelolaan pariwisata.
Pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah peserta kembali ke Kukar. Peserta didorong untuk menyesuaikan dan menerapkan pengalaman yang didapat dengan kondisi destinasi maupun lingkungan kerja masing-masing.
“Jadi, kegiatan tersebut bukan sekadar jalan-jalan atau kunjungan. Yang paling penting adalah bagaimana peserta mendapatkan pengalaman, membuka wawasan, kemudian membawa pulang pengetahuan tersebut untuk diterapkan dalam pengembangan pariwisata di daerahnya,” pungkasnya. (Adv/Disparkukar)




