GSNews.id – Bukit Mahoni di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. Perubahan pola kunjungan ini mendorong pengelola untuk menyesuaikan pelayanan dan kesiapan kawasan wisata.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mentari, Lucky Anisa, mengatakan pengunjung Bukit Mahoni kini semakin beragam. Selain wisatawan dari wilayah sekitar, destinasi tersebut juga menerima kunjungan wisatawan asing dan rombongan besar dari sejumlah daerah di Kalimantan Timur (Kaltim).
“Dulu kami lebih banyak menerima pengunjung yang datang untuk menikmati suasana dan berfoto. Sekarang karakter pengunjungnya mulai berbeda-beda, jadi kami juga harus memahami kebutuhan masing-masing rombongan,” kata Lucky, Senin (7/9/2026).
Ia menyebut wisatawan mancanegara yang pernah berkunjung berasal dari Kanada, Belanda, dan Jerman. Mereka umumnya datang sebagai bagian dari perjalanan wisata yang telah disusun oleh agen perjalanan.
“Kalau wisatawan asing biasanya tidak datang sendiri mencari lokasi. Mereka sudah punya itinerary dari travel, kemudian kami menerima informasi bahwa ada jadwal untuk mampir ke sini,” ujarnya.
Menurut Lucky, wisatawan asing cenderung menikmati suasana alam yang masih terjaga di kawasan Bukit Mahoni. Hal ini menjadi kesempatan bagi pengelola untuk memperkenalkan karakter lingkungan setempat sebagai salah satu daya tarik destinasi.
“Yang menarik, mereka biasanya cukup menikmati suasana alamnya. Tidak selalu mencari tempat yang ramai, justru lingkungan yang masih terasa alami itu yang mereka perhatikan,” jelasnya.
Selain kunjungan wisatawan asing, Bukit Mahoni juga mulai menerima rombongan dalam jumlah besar yang menggunakan bus. Pengunjung tersebut berasal dari sejumlah daerah, seperti Samarinda, Tenggarong, Bontang, dan Balikpapan.
Kondisi ini membuat pengelola perlu memperhatikan kapasitas kawasan dan mengatur pergerakan pengunjung agar kenyamanan tetap terjaga.
“Kalau bus sudah masuk, tentu kami harus memperhitungkan kapasitas tempat dan bagaimana pergerakan pengunjung di dalam kawasan. Jangan sampai karena jumlahnya banyak, kenyamanan pengunjung justru terganggu,” ungkap Lucky.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pokdarwis Mentari mengimbau rombongan agar berkomunikasi terlebih dahulu sebelum berkunjung. Informasi mengenai jadwal dan perkiraan jumlah wisatawan membantu pengelola menyiapkan pelayanan sesuai kebutuhan.
“Kalau sudah ada komunikasi dari awal, kami bisa mengatur siapa yang menerima rombongan, bagaimana mengarahkan mereka dan apa saja yang perlu disiapkan sebelum mereka turun dari kendaraan,” tuturnya.
Lucky menambahkan, masukan dari setiap rombongan menjadi bahan evaluasi bagi pengelola untuk meningkatkan kualitas fasilitas dan pelayanan.
“Dari setiap rombongan kami selalu mendapat pelajaran. Ada yang memberi masukan soal fasilitas, ada juga yang menyampaikan apa yang mereka sukai selama berada di sini,” tuturnya.
Dengan semakin beragamnya asal dan karakter pengunjung, Pokdarwis Mentari berharap Bukit Mahoni dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata alam yang mampu memberikan pengalaman nyaman bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. (adv/disparkukar)




