GSNews.id – Seorang mantan karyawan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) membeberkan sejumlah dugaan praktik tertutup di kawasan industri tersebut, mulai dari arus barang yang disebut tak melalui pemeriksaan bea cukai hingga operasional perusahaan yang dinilai tak tersentuh aparat negara.
Eks Karyawan Sebut Pelabuhan Privat Hindari Pemeriksaan Bea Cukai
Seorang narasumber berinisial Mr. X, mantan karyawan PT IMIP, mengungkap bahwa barang-barang dari China yang masuk ke kawasan industri itu tidak melalui pemeriksaan bea cukai. Ia menyebut hal tersebut dimungkinkan karena PT IMIP memiliki pelabuhan privat.
“Biasanya kalau sudah diperiksa, pasti ada logo dari bea cukainya di container,” ujarnya, dikutip dari akun TikTok OfficialiNews.
Ia mengklaim pernah melihat langsung kondisi tersebut. “Saat container dibuka saya lihat sendiri,” sambungnya.
Mr. X menyebut kejadian itu ia saksikan sekitar tahun 2015–2016, ketika dirinya masih bekerja di sana.
Sebagai catatan, sejumlah kawasan industri di Indonesia memang memiliki terminal atau pelabuhan khusus. Namun setiap pemasukan barang secara hukum tetap diwajibkan melalui mekanisme kepabeanan. Dugaan seperti yang disampaikan narasumber masih memerlukan klarifikasi resmi dari pihak IMIP dan otoritas terkait.
Tenaga Kerja Asing Disebut Capai Ribuan Orang
Selain soal arus barang, Mr. X juga menyinggung jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di kawasan IMIP yang disebut mencapai ribuan orang.
Menurutnya, jumlah itu hampir setara dengan populasi satu kecamatan Bohodopi, Morowali — lokasi kawasan industri tersebut.
Isu terkait TKA di kawasan smelter Morowali memang kerap muncul dalam beberapa tahun terakhir, seiring peningkatan investasi industri pengolahan nikel.
Kawasan IMIP Dinilai Tertutup dan Tak Tersentuh Aparat
Mr. X turut menyinggung soal ketatnya akses di dalam kompleks PT IMIP. Ia menyebut aktivitas perusahaan sulit dijangkau aparat keamanan karena terdapat Morowali Security Service (MSS), satuan keamanan internal yang menurutnya “mirip kepolisian”.
“Sampai Bupati pun nggak bisa masuk,” tegasnya.
Pernyataan ini selaras dengan sejumlah laporan publik sebelumnya mengenai tingginya standar keamanan kawasan industri tersebut, meski kebenaran klaim narasumber tetap perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Bandara Khusus IMIP Pernah Dipersoalkan Satgas PKH
Di sisi lain, Mr. X mengaku mengetahui adanya polemik terkait Bandara Khusus IMIP, yang sebelumnya dilaporkan beroperasi tanpa petugas negara.
Informasi itu pernah disampaikan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) saat mendampingi kunjungan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, yang kala itu menyoroti aspek legalitas fasilitas perusahaan.
Mr. X Akui Menyaksikan Langsung Peresmian Smelter IMIP
Terkait isu keterlibatan mantan Presiden Joko Widodo, Mr. X menegaskan bahwa ia memang hadir saat peresmian smelter IMIP, namun tidak terkait bandara.
“Saya menyaksikan sendiri, saya ada di sana. Tapi bukan bandaranya, smelter IMIP-nya,” jelasnya.
Buka Suara karena Prihatin kondisi Masyarakat Sekitar
Saat ditanya alasan berani mengungkap informasi tersebut, Mr. X mengatakan dirinya merasa prihatin dengan kondisi masyarakat di sekitar kawasan.
“Saya kadang prihatin, ya. Melihat tambang-tambang kita dikuasai oleh bukan kita,” ujarnya.
“Masyarakat di desa sekitar tidak merasakan kebahagiaan, mereka menderita,” pungkasnya.




