GSNews.id — Capaian Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dalam pengembangan pariwisata menjadi pijakan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanan wisata.
Pengelolaan pariwisata yang melibatkan pemerintah desa, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), serta masyarakat terus diarahkan agar tidak berhenti pada pencapaian penghargaan. Pengelola melihat capaian tersebut sebagai bagian dari proses untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat potensi yang telah dimiliki.
Ketua Pokdarwis Bertata Menata Tertata (BMT) Desa Sangkuliman, Akhmad Rojali, mengatakan perkembangan pariwisata di wilayahnya masih tergolong baru. Namun, berbagai upaya yang dilakukan mulai mendapat perhatian hingga tingkat yang lebih luas.
“Bagi kami, capaian itu menjadi kebanggaan. Usia Sangkuliman dalam mengelola pariwisata masih relatif muda, tetapi sudah mampu memperoleh perhatian di tingkat yang lebih luas,” kata Rojali saat dihubungi, Rabu (7/10/2026).
Salah satu capaian tersebut yakni masuknya Desa Sangkuliman dalam jajaran 300 desa wisata terbaik Indonesia. Menurut Rojali, pencapaian itu menunjukkan adanya perkembangan dalam pengelolaan potensi wisata berbasis desa.
“Ketika masuk 300 besar desa wisata Indonesia, tentu kami bangga. Ini menunjukkan bahwa apa yang kami kerjakan mulai mendapat perhatian,” ujarnya.
Selain capaian di tingkat nasional, Sangkuliman juga tercatat dalam jajaran desa wisata terbaik di tingkat daerah. Capaian tersebut, kata Rojali, tidak terlepas dari keterlibatan sejumlah unsur dalam menjalankan aktivitas pariwisata.
Pemerintah desa berperan memberikan dukungan, sementara Pokdarwis menjalankan pengelolaan di lapangan. Masyarakat juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan maupun kunjungan wisatawan.
“Semua memiliki bagian. Pemerintah desa memberikan dukungan, Pokdarwis menjalankan pengelolaan, sementara warga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kunjungan,” jelasnya.
Bagi pengelola, capaian tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk melihat aspek yang masih perlu diperkuat. Mulai dari pengembangan produk wisata, peningkatan pelayanan hingga kesiapan sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan pariwisata.
“Penghargaan bukan tujuan akhir. Bagi kami, itu menjadi pemicu untuk terus berbenah, terutama dari sisi produk, pelayanan dan kesiapan pengelola,” katanya.
Ke depan, Pokdarwis BMT berupaya memperbanyak aktivitas wisata yang dapat dikembangkan dari potensi lokal. Langkah tersebut diharapkan memberikan lebih banyak pilihan pengalaman bagi wisatawan sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi pariwisata.
“Kami ingin terus bergerak. Produk yang ada harus semakin kuat dan kemampuan warga dalam melayani wisatawan juga harus terus ditingkatkan,” pungkasnya. (adv/disparkukar)




