Pengembangan Danau Uwis Terkendala, Pokdarwis Dorong Sinergi Pemdes dan BUMDes

Kondisi Danau Uwis di Kecamatan Muara Wis, Kukar, yang mengering.

GSNews.id – Potensi wisata Danau Uwis di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih membutuhkan dukungan pengelolaan yang lebih terarah. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Puluhan Nusa pun mendorong pemerintah desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memperkuat kerja sama agar pengembangan destinasi tidak hanya bergantung pada kemampuan kelompok.

Ketua Pokdarwis Puluhan Nusa, Medri, menilai kemajuan pengembangan Danau Uwis belum signifikan dalam satu hingga dua tahun terakhir. Menurutnya, pembenahan destinasi membutuhkan dukungan pembiayaan, pembangunan fasilitas, serta pengelolaan usaha yang jelas.

“Harapannya, pemerintah desa, BUMDes, dan Pokdarwis bisa bekerja sama lebih solid. Kalau pariwisata ingin maju, perlu ada badan usaha yang mengelolanya, termasuk perizinan dan pengaturan pendanaan,” ujar Medri, Selasa (15/9/2026).

Selama ini, Pokdarwis berperan dalam mempromosikan destinasi, mengoordinasikan aktivitas wisata, dan melayani pengunjung. Namun, keterbatasan dana operasional membuat kelompok tersebut belum mampu menangani seluruh kebutuhan pengembangan kawasan.

Medri menyebutkan, pembagian tugas antarpihak perlu diperjelas. Pokdarwis dapat berfokus pada aktivitas dan promosi wisata, sementara pengembangan usaha serta dukungan pendanaan perlu dibahas bersama pemerintah desa dan BUMDes.

Ia mengungkapkan, usulan dukungan anggaran BUMDes untuk pengembangan usaha pariwisata pernah disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) 2025. Namun, hingga wawancara dilakukan, ia belum melihat kejelasan tindak lanjut atas usulan tersebut.

“Yang dibutuhkan adalah kesepakatan bersama, sehingga setiap pihak memahami apa yang harus dikerjakan dan bagaimana kegiatan itu bisa didukung,” tuturnya.

Tantangan pengembangan Danau Uwis juga dipengaruhi kondisi alam. Air danau yang surut membatasi aktivitas susur danau menggunakan perahu, sedangkan kunjungan wisatawan disebut mengalami penurunan. Situasi ini membuat pengelola perlu menyiapkan pilihan aktivitas lain agar daya tarik destinasi tetap terjaga.

Dari sisi akses, Medri menilai jalur menuju kawasan wisata masih perlu ditingkatkan. Ia pernah mengusulkan perbaikan jalan dari kawasan SP 2 menuju Tempuran Darat agar masyarakat dapat menjangkau danau melalui rute yang lebih langsung.

Potensi wisata edukasi juga dapat menjadi pilihan pengembangan, antara lain melalui kunjungan ke kebun jagung dan peternakan kerbau milik warga. Meski demikian, kegiatan tersebut masih bergantung pada musim dan memerlukan koordinasi dengan masyarakat setempat.

Hingga kini, Danau Uwis belum memberlakukan tiket masuk. Selain fasilitas yang masih terbatas, pengelolaan pendapatan wisata juga dinilai perlu ditata agar dapat berjalan lebih terstruktur.

Medri berharap pemerintah desa, BUMDes, dan Pokdarwis segera membahas prioritas pengembangan, pembagian peran, serta skema pendanaan yang sesuai dengan kemampuan desa. Dengan perencanaan bersama, pengembangan Danau Uwis diharapkan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. (adv/disparkukar)