Samarinda Bersinar di Tingkat Nasional, Wali Kota Andi Harun Masuk Tiga Besar PWI 2026

Wali Kota Samarinda, Andi Harun.

GSNews.id – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan masuk tiga besar Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat 2026. Capaian ini menempatkan Samarinda sejajar dengan daerah yang konsisten memajukan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan kota.

Pengakuan Nasional bagi Wali Kota Samarinda

Penilaian dilakukan Dewan Juri PWI Pusat melalui telaah kebijakan daerah, program kebudayaan, dan dampak nyata terhadap komunitas seni dan budaya. Anggota Dewan Juri, Yusuf Susilo Hartono, menegaskan penghargaan ini menilai kesungguhan kepala daerah, bukan sekadar program di atas kertas.

“Yang kami nilai adalah kesungguhan kepala daerah dalam memberi ruang tumbuh bagi kebudayaan dan manusianya. Kebudayaan itu hidup, dan manfaatnya harus benar-benar dirasakan masyarakat,” jelas Yusuf, Kamis (1/1/2026).

Dari sepuluh kepala daerah terbaik nasional, tiga wali kota masuk kategori tiga besar, yakni Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Wali Kota Samarinda Andi Harun, dan Wali Kota Mataram Mohan Roliskana. Tujuh finalis lain berasal dari unsur bupati di Lampung Utara, Temanggung, Manggarai, Blora, Labuhanbatu, Manokwari, dan Padang Pariaman.

Tahapan Akhir dan Tema Anugerah Kebudayaan

Perhelatan kali ini, Anugerah Kebudayaan PWI Pusat mengusung tema Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers. Tema ini menegaskan bahwa kepala daerah yang dinilai berhasil adalah mereka yang mengintegrasikan kebudayaan dalam pembangunan dan membangun kesadaran publik melalui media.

Tahapan akhir dilakukan melalui presentasi langsung para finalis di Gedung Dewan Pers, Jakarta, pada 8–9 Januari 2026. Pemenang akan diumumkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari 2026.

Dampak bagi Samarinda dan Komunitas Budaya

Capaian Andi Harun bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi buah dari kerja kolektif pemerintah, komunitas budaya, dan masyarakat Samarinda dalam menjaga identitas kota di tengah pembangunan.

Prestasi ini diharapkan mendorong munculnya lebih banyak program kebudayaan berbasis partisipasi masyarakat, memperkuat posisi budaya sebagai fondasi pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan masuknya Samarinda dalam tiga besar, kota ini semakin diakui secara nasional sebagai daerah yang serius merawat kebudayaan, sekaligus menegaskan bahwa pembangunan dan kebudayaan dapat berjalan beriringan.