ESDM Kaltim Pastikan Penambangan Pasir di Sungai Kelay–Segah untuk Normalisasi Transportasi

Sumber: Humas ESDM Kaltim

GSNews.id – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur memastikan rencana penambangan pasir di Sungai Kelay dan Sungai Segah di Kabupaten Berau merupakan langkah normalisasi sungai. Program ini ditujukan untuk memperbaiki alur transportasi air yang selama ini terhambat akibat sedimentasi.


Difokuskan pada Titik-Titik Sedimentasi yang Menghambat Aliran

Kepala ESDM Kaltim Bambang Arwanto menjelaskan bahwa penanganan diarahkan ke area yang mengalami penumpukan sedimen paling berat.

“Pak gubernur mengarahkan supaya penambangan di sungai itu diarahkan pada sedimentasi untuk dikeruk,” ujarnya.

Menurut Bambang, pendekatan tersebut memungkinkan dua tujuan berjalan beriringan: mengangkat sedimen yang menutup alur sungai sekaligus menyediakan material pasir dari lokasi yang sama.

“Iya, sambil menambang sambil mengeruk. Di sana juga banyak penambang tradisional, ini nanti akan kita bina. Kita sampaikan bahwa mereka akan diberikan izin dan dibimbing agar kegiatan mereka memiliki dimensi lingkungan yang baik,” jelasnya.


Pendangkalan Parah, Kapal Sering Terdampak

Bambang menerangkan bahwa pendangkalan di dua sungai utama tersebut sudah cukup ekstrem. Pada saat surut, permukaan air turun drastis hingga menyisakan sekitar satu meter kedalaman.

“Kalau airnya surut, rendah sekali, bahkan bisa main bola di situ. Memang perlu pengerukan,” ujarnya.

Masalah ini disebut telah mengganggu aktivitas transportasi air warga Berau. Banyak operator kapal menyampaikan keluhan karena kesulitan melintasi titik-titik dangkal tersebut.

“Salah satu caranya adalah penambangan di sungai pada titik-titik sedimentasi itu,” imbuh Bambang.


Penambangan Tidak Dilakukan di Seluruh Aliran Sungai

Bambang mengingatkan bahwa sungai memiliki fungsi ekologis dan sosial yang harus dijaga. Karena itu, penambangan tidak akan dilakukan secara menyeluruh, melainkan hanya pada lokasi yang telah terbukti mengalami sedimentasi ekstrem.

“Kita ingin ketiganya sinkron, terutama fungsi transportasi. Maka kita sepakat bahwa penambangan hanya dilakukan di titik-titik yang dangkal tadi,” pungkasnya.