Jadi Wisata Edukasi, Madu Kelulut Desa Bhuana Jaya Tembus Pasar Luar Daerah

madu kelulut di desa bhuana jaya.

GSNews.id – Madu kelulut menjadi salah satu produk unggulan masyarakat Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Selain memiliki nilai ekonomi, budidaya lebah kelulut berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi yang menghubungkan aktivitas pariwisata dengan usaha masyarakat.

Ketua Pokdarwis Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, mengatakan budidaya lebah kelulut dapat menjadi pengalaman tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Buana Jaya. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati suasana alam, tetapi juga mempelajari proses budidaya hingga mengenal produk yang dihasilkan masyarakat.

“Di sana pengunjung bisa belajar bagaimana budidaya lebah kelulut. Jadi, bukan hanya berwisata menikmati alam, tetapi juga bisa mendapatkan pengetahuan tentang proses budidaya dan usaha yang dikembangkan masyarakat,” ujar Eko, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, pengembangan wisata edukasi dapat membuka peluang untuk memperkenalkan potensi usaha lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Wisatawan berkesempatan melihat langsung aktivitas produktif warga sekaligus mengenal madu kelulut sebagai salah satu hasil usaha masyarakat setempat.

Eko menyebut pemasaran madu kelulut telah menjangkau konsumen di luar daerah. Ia juga memperoleh informasi bahwa produk tersebut telah dipasarkan hingga ke luar negeri. Namun, data mengenai negara tujuan, volume penjualan, dan nilai transaksi belum dirinci.

“Harapannya, ketika wisatawan datang, mereka juga bisa mengenal produk-produk masyarakat. Dengan begitu, kegiatan wisata tidak hanya memberikan pengalaman bagi pengunjung, tetapi juga membuka peluang pemasaran bagi pelaku usaha lokal,” katanya.

Selain madu kelulut, masyarakat Desa Buana Jaya juga mengembangkan produk lain, seperti jamur krispi dan jamu herbal. Produk-produk tersebut berpeluang diperkenalkan melalui promosi desa maupun kegiatan wisata yang memadukan pengalaman alam dengan pengenalan usaha masyarakat.

Eko menilai kerja sama antara pengelola wisata dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperlukan agar produk lokal semakin dikenal. Promosi yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran sekaligus membuka peluang penjualan kepada wisatawan.

Meski memiliki potensi tersebut, pengembangan wisata edukasi masih perlu menyesuaikan kesiapan kawasan. Saat ini, Buana Jaya Agro Ekowisata belum dibuka secara rutin karena pengelola masih melakukan pembenahan, terutama di area air terjun.

Pokdarwis menargetkan kawasan ekowisata dapat kembali dibuka pada 2027. Momentum tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan konsep wisata yang menggabungkan keindahan alam, edukasi budidaya lebah kelulut, agrowisata, dan promosi produk UMKM.

Eko berharap potensi madu kelulut dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat Desa Buana Jaya. (adv/disparkukar)