GSNews.id – Denting lonceng dan kepulan asap dupa mengiringi pergantian Tahun Baru Imlek di Klenteng Thien Ie Kong, Senin (16/2/2026) malam. Umat memadati klenteng tertua di Samarinda itu untuk menutup tahun lama dengan sembahyang syukur, lalu menyambut tahun baru dengan doa dan harapan baru.
Ritual Penutup Tahun dan Makna Doa
Sejak malam, jemaat berdatangan membawa lilin merah, dupa, serta kertas doa yang berisi nama dan harapan keluarga. Suasana berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan hingga memasuki dini hari.
Sucipto Lesmana (68), salah seorang jemaat, menyebut lilin yang dinyalakan umat bukan hanya simbol perayaan, melainkan bentuk doa dan harapan agar usaha diberi kelancaran, kesehatan terjaga, serta keluarga senantiasa dalam perlindungan.
“Yang didoakan bukan hanya diri sendiri. Semua nama yang dicantumkan itu harapan supaya kehidupan ke depan lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, doa juga ditujukan bagi kondisi bangsa agar tetap aman, jauh dari bencana dan perpecahan.
Rangkaian Ibadah Sepekan
Penyuluh agama sekaligus rohaniwan Khonghucu, David Menurut Hermanto, ibadah pada malam Imlek menjadi puncak rangkaian kegiatan keagamaan yang sudah berlangsung sejak sekitar tujuh hari sebelumnya.
Umat lebih dulu melaksanakan sembahyang, membersihkan altar para dewa, hingga berbagi santunan kepada yang membutuhkan. Pada malam pergantian tahun, ibadah diawali dengan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa, dilanjutkan penghormatan kepada leluhur dan para suci.
“Besok saat hari Imlek, umat kembali bersembahyang, lalu bersilaturahmi bersama keluarga. Rangkaian ini berlanjut sampai perayaan Cap Go Meh,” jelasnya.
Ia memaknai Imlek sebagai momentum introspeksi diri. Terlebih memasuki siklus tahun berelemen api yang melambangkan semangat, energi besar, dan dorongan untuk berkembang.
Pengamanan Hingga Dini Hari
Pengamanan perayaan juga mendapat perhatian dari aparat kepolisian. Kapolsek Kota Samarinda, IGN Adi Suarmita, mengatakan sebanyak 16 personel gabungan diterjunkan untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah berlangsung aman dan tertib.
“Kami siagakan personel dari Polres dan Polsek, dibantu unsur terkait lainnya. Pengamanan berlangsung sampai seluruh ibadah selesai sekitar pukul 02.00 dini hari,” katanya.
Pengamanan dilakukan sebagai bagian dari prosedur rutin setiap perayaan hari besar keagamaan, guna memberi rasa aman bagi umat yang beribadah.
Imlek dan Tradisi di Indonesia
Perayaan Imlek sendiri merupakan hari raya penting bagi umat Khonghucu dan masyarakat Tionghoa. Di Indonesia, Imlek telah ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 2002 dan menjadi bagian dari kekayaan budaya yang dirayakan secara terbuka.
Di Samarinda, Klenteng Thien Ie Kong dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan dan budaya Tionghoa, sekaligus saksi sejarah panjang keberadaan komunitas Tionghoa di Kota Tepian.
Pergantian tahun pun bukan sekadar tradisi, melainkan ruang refleksi dan penguatan kebersamaan dalam keluarga maupun masyarakat luas.




