Mengabdi Lewat Budaya dan Pendidikan, Cara Baru Menjadi Pahlawan di Era Modern

Muhlis, Akademisi Universitas Mulawarman

GSNews.id – Di Hari Pahlawan 2025, bangsa Indonesia diingatkan bahwa kepahlawanan tak melulu soal perang dan senjata. Semangat itu kini bisa diwujudkan melalui pendidikan berbasis budaya dan penguatan nilai-nilai luhur bangsa di kalangan generasi muda.


Akademisi dan penggiat budaya dari Universitas Mulawarman (Unmul), Muhlis, menegaskan bahwa nilai-nilai kepahlawanan tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya. Ia menjelaskan bahwa pahlawan sejati bukan hanya mereka yang berjuang di medan perang, tetapi juga mereka yang mempertahankan nilai luhur bangsa melalui pendidikan dan karya kebudayaan.


“Kebudayaan lokal adalah akar identitas bangsa. Jika generasi muda melupakan budayanya, mereka akan kehilangan arah, bahkan semangat juang,” ujar Muhlis.


Menurut Muhlis, pendidikan yang ideal tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan jati diri. Nilai seperti gotong royong, keberanian, tanggung jawab, dan cinta tanah air harus ditanamkan melalui pembelajaran yang kontekstual dan bermakna, misalnya melalui seni tari daerah, musik tradisional, permainan rakyat, atau cerita rakyat yang sarat nilai perjuangan dan moral.


Muhlis menekankan bahwa setiap daerah memiliki kisah pahlawan lokal yang bisa menjadi inspirasi, mulai dari Pangeran Antasari (Kalimantan), Sultan Hasanuddin (Sulawesi), hingga Patimura (Maluku). Kisah-kisah ini mengajarkan keberanian, solidaritas, dan keikhlasan berjuang demi rakyat—nilai yang relevan untuk generasi muda yang hidup dalam era lebih individualistis.


Lebih jauh, Muhlis mengingatkan bahwa pendidikan saat ini kerap terjebak pada sistem mekanistik dan kompetitif, yang menekankan nilai akademik di atas pembentukan karakter. Padahal, semangat kepahlawanan dapat tumbuh jika pendidikan mampu membangkitkan kesadaran sosial dan empati peserta didik.


“Pendidikan harus memanusiakan manusia. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan dan budaya,” tegas Muhlis.


Muhlis juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi untuk mengarusutamakan kebudayaan lokal dalam kurikulum. Ribuan bahasa daerah, ratusan kesenian tradisional, dan kearifan lokal harus dijaga dan diajarkan agar generasi penerus tetap memiliki patriotisme dan nasionalisme.


Selain itu, mahasiswa dan pelajar didorong untuk menggali dan mempublikasikan budaya lokal melalui karya kreatif, seperti film pendek, musik, atau literasi digital. Dengan begitu, kebudayaan tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga bagian hidup yang relevan dengan dunia modern.


“Menjadi pahlawan di era digital berarti mampu menjaga nilai-nilai budaya bangsa di tengah arus globalisasi yang kian deras,” tambah Muhlis.


Refleksi ini menegaskan bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Melalui pendidikan berbasis budaya, nilai-nilai kepahlawanan bisa hidup secara alami dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, kampus, maupun dunia digital.


Hari Pahlawan 10 November 2025 mengingatkan kita bahwa kepahlawanan kini bukan soal senjata, melainkan tentang membangkitkan semangat perjuangan melalui pendidikan, budaya, dan nilai kemanusiaan.


“Semangat pahlawan sejati adalah semangat untuk terus belajar, mengabdi, dan menjaga warisan budaya bangsa agar Indonesia tetap berdiri teguh dengan jati dirinya,” tutup Muhlis.