GSNews.id — Menyusuri perairan Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), wisatawan dapat menikmati suasana alam sekaligus melihat aktivitas masyarakat yang berada di sekitar jalur perairan.
Pengalaman tersebut menjadi daya tarik dalam wisata susur sungai dan danau yang dikembangkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT). Dalam perjalanan tertentu, wisatawan juga berkesempatan menjumpai pesut yang masih hidup di habitat alaminya.
Ketua Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman, Akhmad Rojali, mengatakan perjumpaan dengan pesut menjadi pengalaman tambahan bagi wisatawan. Namun, kemunculan satwa tersebut tidak bisa dijadikan kepastian dalam setiap perjalanan.
“Kalau memang pas ada, kita bisa lihat. Tapi memang tidak bisa kita pastikan setiap kali orang datang itu ada pesut,” kata Rojali saat dihubungi, Kamis (2/10/2026).
Menurut Rojali, jalur wisata yang melewati perairan sekitar Sangkuliman terhubung dengan kawasan perairan lainnya. Kondisi ini memungkinkan wisatawan mengamati lebih banyak aktivitas alam selama perjalanan.
Peluang melihat pesut juga dipengaruhi musim. Berdasarkan pengalaman pengelola, periode Desember hingga Juni biasanya menjadi waktu yang lebih memungkinkan untuk menemukan satwa tersebut. Sebaliknya, peluangnya cenderung berkurang ketika memasuki musim kemarau panjang.
“Biasanya kalau Desember sampai Juni itu luar biasa. Kalau Juli sampai Oktober agak susah karena musim keringnya panjang,” ujarnya.
Meski pesut menjadi salah satu daya tarik, Rojali menegaskan wisatawan tidak hanya diajak mencari keberadaan satwa. Perjalanan tetap menjadi bagian utama pengalaman, dengan menikmati lanskap perairan dan kehidupan masyarakat di sepanjang rute.
Waktu kemunculan pesut pun tidak memiliki pola yang tetap. Satwa tersebut pernah terlihat pada pagi maupun sore, tergantung kondisi perairan dan ketersediaan makanan.
“Kadang pagi ada, kadang sore juga bisa muncul. Jadi memang tergantung kondisi dan keberadaan makanannya,” jelasnya.
Bagi pengelola, ketidakpastian tersebut justru menjadi karakter wisata berbasis alam. Wisatawan tidak sekadar datang untuk mengejar kemunculan pesut, tetapi diajak menikmati perjalanan sambil mengamati kondisi lingkungan.
Potensi ini terus menjadi bagian dari pengembangan wisata alam Sangkuliman. Selain memberikan pengalaman berbeda kepada pengunjung, aktivitas susur perairan diharapkan turut menumbuhkan perhatian terhadap kelestarian lingkungan dan habitat pesut.
“Kalau kebetulan pesut muncul, itu menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan,” pungkasnya. (adv/disparkukar)



