GSNews.id – Real Madrid menang dramatis 4–3 atas Olympiacos berkat quattrick Kylian Mbappé, sementara Barcelona dihajar Chelsea 3–0 di London. Dalam dua malam, wakil raksasa Spanyol menampilkan dua wajah berbeda, Madrid dengan kebangkitannya sedangkan Barca dengan kehancuran.
Dramatis di Athena: Real Madrid Bangkit Berkat Ledakan Mbappé
Olympiacos membuat kejutan cepat lewat gol Chiquinho pada menit ke-8, membuat stadion Georgios Karaiskakis bergelora. Namun Real Madrid menunjukkan mental juara. Dalam tempo kurang dari tujuh menit, Kylian Mbappé mengamuk dengan hat-trick kilat pada menit 22, 24, dan 29.
Mbappé masih menambah satu gol di babak kedua, menggenapi quattrick sekaligus membawa Los Blancos unggul 4–1. Meski Olympiacos sempat memperkecil kedudukan melalui Mehdi Taremi dan Ayoub El Kaabi, Madrid tetap pulang dengan kemenangan 4–3 — sekaligus kemenangan pertama mereka di kandang Olympiacos dalam beberapa percobaan terakhir.
Bagi Madrid, hasil ini tak hanya mengamankan tiga poin. Ini adalah penegasan ketika lini depan mereka hidup, terutama Mbappé, tak ada situasi yang terlalu sulit untuk dibalikkan.
Kelam di London: Barcelona Dihajar Chelsea Tanpa Ampun
Berbeda dengan Madrid, Barcelona menghadapi malam yang pahit di Stamford Bridge. Chelsea tampil menekan sejak awal, dan tekanan itu langsung membuahkan gol bunuh diri Jules Koundé pada menit ke-27.
Petaka Blaugrana bertambah saat Ronald Araújo diusir wasit sebelum jeda babak pertama, memaksa mereka bermain dengan 10 orang. Chelsea memanfaatkan situasi dengan sangat efektif, di mana Estêvão menggandakan keunggulan di menit 55, disusul gol Liam Delap yang menutup skor 3–0.
Kekalahan ini bukan sekadar hilangnya poin. Barcelona juga memutus rekor impresif mereka yang selalu mencetak gol dalam 50-an laga beruntun di semua kompetisi. Malam kelam itu meninggalkan tanda tanya besar tentang konsistensi dan mental pasukan Catalan di laga-laga penting.
Dua Kisah, Dua Wajah Liga Champions
Dua wakil Spanyol menampilkan kontras mencolok. Madrid mempertontonkan daya juang dan kualitas individual kelas elite, simbol bahwa mereka masih kandidat kuat juara. Sementara itu, Barcelona masih harus berbenah, baik dari sisi taktik, disiplin, maupun ketahanan mental, terutama saat menghadapi tekanan tinggi.



